BERSAMA MAJU ATAU BERSAMA DULU BARU MAJU
Disampaikan pada SDPW PII Jateng, Tegal 20-23 Maret 2008
Oleh : Pengurus Daerah PII Kab. Pemalang
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”
(Q.S. Ash Shaf : 4)
Tidak usah lelah memuji-Nya, karena memang kita hidup karena rahmat dan hidayah dari-Nya. Tidak usah malu untuk memohon ampun kepada-Nya, karena memang manusialah tempat tinggalnya salah dan dosa. Dan tidak usah resah akan karunia-Nya, karena memang Dia yang maha benar janji-janji-Nya.
A. PENDAHULUAN
Perjalanan umat manusia dalam memperjuangkan keyakinan, merupakan sebuah perjalanan yang tak pernah kenal selesai dalam kehidupan. Upaya manusia untuk memiliki, mengilmui, mengamalkan, serta mendakwahkan ditengah-tengah umat manusia merupakan kesungguhan untuk menjadikan keyakinan sebagai pandangan hidup yang hakiki. Untuk itu dalam memiliki keyakinan tersebut diperlukan kearifan dan sikap bijaksana untuk membentengi atau membela dari golongan orang-orang yang menentang dan berusaha menghancurkan.
Islam sebagai sistem hidup merupakan keyakinan umat islam di seluruh belahan bumi ini. Islam merupakan sistem permanen yang akan selalu berhadapan dengan sistem jahiliyah. Rasa cinta kepada islam dan kepedulian kita terhadap umatnya hendaknya mampu terwujud dalam satu tekad yang bulat untuk memperjuangkannya.
Pelajar Islam Indonesia yang merupakan salah satu mata rantai perjuangan umat islam senantiasa dihadapkan oleh sebuah realita yang bertentangan dengan idealitas misi islam. Bertitik tolak dari ajaran islam, maka umat islam senantiasa dituntut untuk mampu melihat jauh kedepan dalam mencari jawaban.
Pelajar sebagai sasaran dakwah dan islam sebagai sumber nilai telah dihadapkan dengan berbagai ancaman di Indonesia. Perkembangan dunia pelajar terlalu banyak menyimpang dari nilai-nilai moral dan kemasyarakatan. Semua itu telah menyebabkan tumpulnya rasa kemanusiaan dan kesadaran membangun bangsa. Sehingga maraknya perkelahian yang disertai tindak kejahatan bersifat kriminal cukup mewarnai lapisan pemuda dan pelajar.
Pelajar Islam Indonesia sebagai salah satu mata rantai perjuangan umat islam tentu tak akan terlepas dari benang merah sejarah perjuangan umat islam Indonesia. Realita dalam dunia pelajar kita (PII) semakin jauh dari peran sosial kemasyarakatan (sebagai agen of change), ini merupakan indikasi kemunduran peran kita dari pentas sosial kemasyarakatan. Lebih-lebih PII arena berlatih sekaligus pembinaan keorganisasian, keilmuan dan kepelajaran semakin jauh dari kondisi ideal.
B. BERSAMA MAJU ATAU BERSAMA DULU BARU MAJU
Bersama berarti lebih dari satu, serempak atau yang lebih akrab kita sebut ‘bareng-bareng’. Sedangkan kata maju sendiri berarti bergerak ke depan (sebagai kata kerja), sukses atau berhasil (sebagai kata keterangan).
Menarik benang merah sejarah PII sejak bangkit hingga besarnya, PII tak lepas dari peran sejarah yang ikut menentukan kiprah perjuangan umat islam Indonesia. Dan sekarang jaman pun telah banyak mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam segala bidang. Maka ketika melihat bukti-bukti kemajuan yang ada sekarang, tentunya kita perlu menanyakan, “Apakah bukti yang bisa menggambarkan kemajuan PII ?”. Maka jawabannya adalah dengan melihat diri kita sendiri.
Di era globalisasi ini, sebagaimana kita rasakan telah secara signifikan menggiring manusia menjadi komunitas yang tak lagi tersekat oleh keterbatasan antar negara hingga tak satupun negara yang mampu keluar dari jerat globalisasi. Karenanya arus budaya menjadi sedemikian cepat seolah tak mampu lagi terbendung oleh peran kontra globalisasi atau politik menutup diri suatu bangsa.
Tentu sudah bukan hal yang aneh/asing lagi ketika kita melihat perilaku-perilaku remaja sekarang lebih cenderung pada kebudayaan-kebudayaan yang dianggapnya bermerek luar negeri (kebudayaan barat), seperti pergaulan bebas, perayaan-perayaan yang sebenarnya dalam kontek peribadatan non islam (valentine day, tahun baru dan sebagainya), cara dan model berpakaian yang mengumbar aurat secara gratisan.
Dimanakah keberadaan PII sekarang ?
Jawabannya adalah bukan mengarah pada suatu tempat, bangunan yang bisa dicapai dan diukur dengan jarak atau pun fasilitas. Namun lebih dari sekedar itu, yang mestinya menjadi jawaban tidak lain adalah lebih pada peran aktif PII dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan umat, bagaimana langkah-langkah PII di dalam menjawab segala persoalan yang berkaitan dengan kemajuan-kemajuan dunia yang semakin pesat.
Dimanakah peluangnya ?
Ketika melihat bukti-bukti kemajuan yang ada sekarang, maka yang perlu kita pertanyakan adalah apakah semua kemajuan kelengkapan teknologi dan penguasaan atas kebutuhan hidup manusia telah mampu menjawab dan memenuhi kebermaknaan dan nilai-nilai esensial manusia atau semua kemajuan yang dicapai manusia justru menjauhkannya dari tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Peluang bagi PII bisa didapatkan seandainya saja kita bisa menjawab pertanyaan tersebut. Maka kembali, jawabannya adalah dengan melihat diri kita sendiri.
C. PETA MASALAH
1. Internal
a. Kondisi kepengurusan yang semakin carut-marut, baik di tingkat wilayah maupun daerah.
b. Tidak mantapnya personal, baik kelembagaan, keilmuan, maupun spesialisasi dan profesionalisasi personal sehingga menyebabkan tidak terpenuhinya semboyan “the right man on the right place”.
c. Kuantitas yang tidak didukung dengan kualitas.
d. Lemahnya sistem kontrol pembinaan dan pengawasan, dari PW ke PD, dari PD ke pengurus komisariat dan dari PII ke masyarakat sosial pada umumnya dan masyarakat pelajar pada khususnya.
2. Eksternal
Berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat sosial pada umumnya dan masyarakat pelajar pada khususnya. Sebagai bukti yang merupakan masalah yang cukup signifikan dan layak mendapat perhatian adalah berkaitan dengan minat, pengetahuan dan pengakuan masyarakat terhadap keberadaan PII.
D. SOLUSI YANG DITAWARKAN
1. Dialog tepat guna
Artinya dialog dilakukan tepat pada sasaran, tujuan, kepentingan dan tentunya untuk mendapatkan ketepatan dalam memahami masalah yang terjadi, dan tentu saja hal ini harus didukung dengan kebenaran data (Peta Dakwah). Guna, artinya hasil dialog tersebut (baik antar personal pengurus maupun masyarakat sosial pada umumnya dan masyarakat pelajar pada khususnya) dapat digunakan semaksimal mungkin sebagai bahan acuan dalam pengambilan keputusan yang benar.
2. Efektivitas dan Efisiensi Turba
Selama ini kegiatan turba yang dilaksanakan masih cenderung hanya berkutat pada pemberitahuan atas rencana-rencana kegiatan yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah. Tepat pada sasaran, tujuan, kepentingan dan peta masalah (yang dipahami dengan benar berdasarkan fakta). Hemat tenaga, biaya dan waktu sebagai modal pembelajaran kedisiplinan, keprofesionalan dan sebagai budaya dalam berorganisasi.
Di dalam mewujudkan solusi-solusi tersebut di atas, perlu memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal.
1. Internal
a. Penataan struktural
b. Pemantapan personal
c. Spesialisasi dan profesionalisasi personal
2. Eksternal
a. Mengamankan eksistensi PII
b. Mengamankan misi PII
E. PENUTUP
Akhirnya tiada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt, semoga tema bukanlah sekedar tema, dan makalah bukanlah sekedar makalah. Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambilan keputusan yang baik dan bijaksana, sebab masih ada hari esok yang mungkin lebih cerah lagi.
Robbanaa laatuzi’quluubana ba’da idh hadaitana wahablana minladunka rohmatan innaka antal wahhab. |