Pak Bejo belakangan ini kelihatan kusut muka dan kusut badan. Pekerjaannya kalau nggak melamun, ya mondar-mandir di sekitar rumahnya atau nongkrong di Pos Ronda.
“Pak Bejo saya perhatikan akhir-akhir ini kok kusut banget seperti pakaian yang nggak pernah disetrika kaya gitu. Ada apakah gerangan yang terjadi?, kata pak Sanip memulai pembicaraan.
“Saya pusing pak Sanip. Rejeki akhir-akhir ini kayaknya seret banget. Udah usaha tapi sepertinya mandeg di tengah jalan” keluh pak Bejo.
“Bapak sudah usaha sungguh-sungguh belum pak?”.
“Ya rasanya sih sudah pak. Saya sudah berusaha sungguh-sungguh” ujar pak Bejo menjawab pertanyaan pak Sanip.
“Mohon maaf pak Sanip, saya tidak tahu masalah sebenarnya pak Bejo, tapi saya ingin bicara sesuatu yang mudah-mudahan bermanfaat untuk pak Bejo”, kata pak Sanip. “Silakan saja pak, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi saya”.
“Begini pak Bejo” pak Sanip memulai berbicara.
“Kita ingat kanjeng nabi Kita, dia adalah manusia pilihan di bumi ini, dan dialah satu-satunya orang di dunia yang menyandang Habibullah atau Kekasih Allah. Sebuah kedudukan yang sangat mulia. Sedang kita itu apa? Kedudukan kita dengan beliau ibaratnya debu air comberanpun masih begitu terhormat”.
“Bapak lihat sepak terjang beliau. Pernah dilempari batu sampai berdarah-darah. Bersembunyi dari kejaran kaum Qurays yang ingin membunuhnya. Sering perutnya diganjal kantong yang berisi kerikil untuk menahan laparnya. Diejek diludahi. Sepatunya harus sering dijahit oleh tangan beliau sendiri karena sobek, pindah tempat berhijrah, dan masih banyak perjuangan yang luar biasa yang beliau lakukan. Bapak tahu makna peristiwa-peristiwa ini pak Bejo?”
“Ceritanya, sejarahnya saya tahu pak Sanip, tapi maknanya saya kurang paham”, ujar pak Bejo.
” Beliau ingin menunjukkan pada kita pak Bejo. Bahwa kita harus bersungguh-sungguh di dalam mengejar rahmat Allah. Kita harus bekerja keras dan bekerja cerdas pantang putus asa. Yang Nabi pilihan Allah saja berjuang mati-matian untuk kehidupannya, lha kok kita mau kerja dan berusaha sekedarnya saja, terus mengharap yang berlebih”.
“Ya pak, tapi hasilnya begini-begini saja pak Sanip” ujar pak Bejo.
“Jangan memikirkan hasil pak Bejo, jalankan sarana yang telah diberikan Allah sungguh-sungguh, yaitu bekerja dan berusaha sungguh-sungguh. Hasilnya itu terserah Allah dikabulkan atau tidak, wong itu hak Prerogatif Allah. Setelah bersungguh-sungguh berdoalah dan kemudia bertawakal. Lihat nabi kita yang sudah jaminan surga, setelah malam tiba beliau melaksanakan ibadah sampai kakinya bengkak-bengkak, dan selalu menangis pada saat berdoa. Pada saat itu kanjeng nabi berdoa dan bertawakal, berserah diri sepenuhnya kepada Allah”.
“Contohlah kanjeng nabi kita, berusaha sungguh - sungguh dengan ikhlas, berdoalah dan bertawakallah. Insya Allah pak Bejo akan menemukan DAHSYATNYA KEKUATAN DOA“, pak Sanip menutup pembicaraan.
KEKUATAN DOA
Doa merupakan permohonan seorang hamba
kepada Rabbnya. Ketika seseorang tengah
berdoa berarti dia sedang memanjatkan
permohonan kepada zat yang memiliki
segala-segalanya dan penolong yang
terbaik, yaitu Allah Swt. Tatkala kita
menengadahkan kedua tangan, hakikatnya
kita sedang meminta kepada Allah, zat
yang Maha Pengasih dan Pemurah,
sekalipun kita tidak dapat melihatnya.
Dari pengertian di atas, dapat dikatakan
doa adalah kesadaran dan pengakuan
seseorang akan keserbalemahannya. Karena
manusia adalah makhluk yang lemah dan
serba terbatas. Seringkali setelah kita
merencanakan sesuatu dengan sempurna,
terkadang dibalik itu terdapat kelemahan
yang tidak pernah kita sadari. Maka doa
menjadi sebentuk kekuatan yang muncul
jauh dari dalam hati kita. Menjadi
penyemangat dikala tubuh kita lemah dan
tidak berdaya.
Allah Swt. berfirman ”Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku
akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina.”(TQS. Al Mukmin [40] : 60).
Namun, sebagai manusia kadangkala muncul
keraguan apakah doa kita dikabulkan.
Dalam kondisi seperti ini, Rasulullah
saw. berkata dengan penuh penegasan :
Tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa
kepada Allah dengan suatu doa yang di
dalamnya tidak dosa dan memutuskan
silaturrahim, kecuali Allah memberinya
salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa
jadi Allah akan mempercepat terkabulnya
doa itu saat di dunia, atau Allah akan
menyimpan terkabulnya doa di akhirat
kelak, atau bisa jadi Allah akan
memalingkan keburukan darinya sesuai
kadar doanya. Para Sahabat berkata “
Kalau begitu, Kami akan memperbanyak
doa.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda
: “Allah akan lebih banayk lagi
(mengabulkannya)” (HR. Bukhari, Ahmad).
Doa orang yang beriman pasti dikabulkan
dengan ketiga bentuk seperti apa yang
disampaikan Rasulullah saw. Tetapi perlu
diingat bahwa doa yang kita panjatkan
harus penuh kesungguhan hati, ketulusan,
penuh harapan, dan hati berdzikir pada
Allah. Sambil menundukkan diri
kepadaNya, khusyu, penuh harap
dikabulkan, dan disertai deraian air
mata yang terus mengalir tak tertahankan.
Di tengah musibah yang melanda negeri
kita, maka perbanyaklah berdoa padaNya.
Mungkin kita lupa bersyukur padaNya.
Sering lalai dan lupa memohon kepadanya.
Dengan semakin banyak kita berdoa
berarti : (1) semakin banyak terpenuhi
keinginan di dunia ini; (2) semakin
banyak tabungan kita di akhirat; dan (3)
semakin banyak keburukan-keburukan yang
menjauh dari diri kita. Wallahu a’lam
bish-shawab.
by : anis nila mayasari - Sragen |